Fenomena Kritik Mengatasnamakan Jarh wat Ta’dil
al-Fikrah

Penulis: Shadiq bin Muhammad Al Baidhoni


Jiwa manusia ibarat sebuah kaca yang mudah pecah. Apabila kita menasehatinya dengan cara yang baik maka akan dapat menumbuhkan kecintaan pada jiwa itu. Namun jika sebaliknya, maka kita akan dapat menyebabkan kehancurannya dan mengekalkan kedengkian di dalamnya.Nasehat atau kritikan yang disampaikan kepada manusia ada yang diterima dan ada yang ditolak. Kritikan itu umumnya diterima jika disampaikan dengan tutur kata yang baik. Jika tidak, maka akan ditolak.

Jika diperhatikan sekarang ini ditengah masyarakat islam, kita dapatkan fenomena berbahaya yang membingungkan akal. Yaitu adanya sebagian orang yang gemar menghujat pihak lain yang berbeda pendapat dengannya meskipun dalam masalah yang terdapat khilaf didalamnya.

Hal ini menunjukkan kepada kita terhadap bahaya dan keburukan yang besar. Ironisnya, semua itu muncul dengan alasan yang dikait-kaitkan dengan salah satu cabang ilmu syar’i oleh orang-orang yang kurang berkompeten didalamnya, sehingga tidak sesuai dengan fitrahnya sendiri apalagi orang yang menyelisihinya.

Mereka hanya mengandalkan niat baik dan mengaku-aku mendekatkan diri kepada Allah dengan mengkritisi pihak-pihak yang berselisih dengannya dengan mengatas namakan ilmu jarh wat ta’dil.

Sebenarnya, Ilmu ini dibangun atas kaidah kokoh yang dipersembahkan oleh ulama besar yang dipersaksikan keluasan ilmunya, takwa dan kezuhudannya. Beliau adalah seorang Imam di negerinya, rujukan bagi ulama-ulama pada zamannya, yang lebih sibuk mengurusi aibnya daripada aib orang lain. Kecuali apabila kemashlahatan memaksa beliau untuk mengkritisi orang menyimpang, yang apabila diam bisa menyebabkan kerusakan yang lebih besar.Itupun setelah betul-betul mencari yang benar dan mendahulukan nasehat dengan sembunyi-sembunyi. Tidaklah juga beliau mengkritisi permasalahan yang terdapat khilaf ulama didalamnya.

Adapun orang yang belum belajar dengan benar atau baru belajar 5 tahun bahkan kurang, juga belum menguasai ilmu alat yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid serta belum terpenuhi syarat-syarat baginya untuk menjadi orang yang berhak men-jarh atau menghukumi, maka penilaiannya terhadap seseorang itu tidaklah dianggap hujjah. Hal ini karena penilaiannya tidak akan keluar dari 6 kemungkinan yang kita berlindung daripadanya:

* Berlebihan-lebihan dalam menilai,
* Menghujat orang yang tidak perlu dihujat,
* Balas dendam,
* Menghukum,
* Ingin terkenal
* Mencari kedekatan dari orang yang menjadi kiblat keagamaannya

Hal ini terjadi karena sedikitnya ilmu dan tergesa-gesa sebelum menguasainya. Dan alangkah banyaknya hal ini terjadi saat ini.

Bagaimanapun juga kemashlahatan umat tidak dapat dibangun diatas pondasi kebencian, permusuhan, perampasan hak dan menyia-nyiakan kemampuan ilmiyah seseorang hanya karena alasan yang kurang tepat. Akan tetapi kemashlahatan dibangun dengan mengikuti petunjuk islam, berhenti pada tempat berhentinya para salaf. Dan terkadang, manusia hari ini berbuat salah maka esok dia akan meninggalkannya karena memang demikianlah manusia tercipta.

Abu Darda berkata :

إذا تغير أخوك وحال عما كان عليه فلا تدعه لأجل ذلك فإن أخاك يعوج مرةً ويستقيم أخرى

” Apabila suatu ketika saudaramu berubah dari kebiasaannya maka jangan engkau meninggalkannya semata karena perubahan itu. Karena suatu ketika ia berbelok dan pada saat yang lain ia akan kembali lurus.”

Sumber 2 :An Naqd Al Marfudh Oleh Syaikh Shadiq AlBaidhoni

Sumber 3:An Naqd Al Marfudh Oleh Syaikh Shadiq AlBaidhoni
(1499 reads)
Re: Fenomena Kritik Mengatasnamakan Jarh wat Ta’dil (Score: 1)
by FATHI on Thursday, August 06, 2009 (01:42:57)
tulisan yg bagus n sgt pnting difahami

| Parent

Toggle Content Related Links
 More about al-Fikrah

Most read story about al-Fikrah:
Kompilasi Rujukan Isu Wahabi

Toggle Content Article Rating
Average Score: 0
Votes: 0
Please take a second and vote for this article:

Excellent
Very Good
Good
Regular
Bad


Toggle Content Options

 Printer Friendly Page  Printer Friendly Page

 Send to a Friend  Send to a Friend


Toggle Content Hadith Today
Aku akan utuskan seorang lelaki yang dia kasihkan Allah dan RasulNya, juga Allah dan RasulNya kasihkan dia. Dia bukan seorang yang akan lari dari medan”. Maka orang ramai pun ternanti-nanti, lalu dilantik ‘Ali dan diserahkan bendera kepadanya

-- HR. Ibn Majah

Toggle Content Pautan Pilihan




Toggle Content Main Menu
 Home Community Members options Forums Search Web Affiliates

Toggle Content Top 10 Download
  1: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1
  2: Shahih Sunan Ibnu Majah, Jilid 3
  3: Quran Flash (Tajweed)
  4: Hadith E-Book
  5: Al-Bidayah wa Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin
  6: Tafsir Ibnu Katsir Juz 2
  7: Tafsir Ibnu Katsir Juz 4
  8: Tafsir Ibnu Katsir Juz 3
  9: Quran Explorer
  10: Al-Raheeq al-Makhtum

Toggle Content User Info

Welcome Anonymous

Nickname
Password

Membership:
Latest: krolnaim
New Today: 0
New Yesterday: 0
Overall: 6806

People Online:
Members: 0
Visitors: 98
Bots: 1
Total: 99
Who Is Where:

Staff Online:

No staff members are online!

Toggle Content Top Posters
   thtl 
 Posts: 
 45516 

   FATHI 
 Posts: 
 14197 

   NAZ 
 Posts: 
 12875 

   Ibn_Firdaus 
 Posts: 
 11753 

   mustaqill 
 Posts: 
 11488 

   abu_usamah 
 Posts: 
 9944 


   kayrollz 
 Posts: 
 7919 

   mfauzy 
 Posts: 
 7045 

   Muhammady7 
 Posts: 
 6957 

   AqilHaq 
 Posts: 
 6825 

   Abu_Imran 
 Posts: 
 6735 

   Mohd.Ikram 
 Posts: 
 6613 

   Athma_Godam 
 Posts: 
 6591 

   ummimq 
 Posts: 
 5902 

   abuQays 
 Posts: 
 5779 

   Abuputri2 
 Posts: 
 5724 

   cikgurahim 
 Posts: 
 5033 

   abulwafaa 
 Posts: 
 4962 


   abdullah_ameen 
 Posts: 
 4444 

   abuirfan 
 Posts: 
 4409 

   iman_taqwa 
 Posts: 
 4391 

   alak 
 Posts: 
 4351 

   Yusof 
 Posts: 
 4213 



The logos and trademarks used on this site are the property of their respective owners
We are not responsible for comments posted by our users, as they are the property of the poster